Catatan Gagal

1

Mengenai… kegilaan(?)

Penerjemahan adalah reproduksi teks. Saya sempat bertanya-tanya kira-kira apa tujuan dan dampak menerjemahkan karya ini ke dalam bahasa indonesia di masa ini. Di mana-mana pemahaman tentang kesehatan mental sedang naik dan berkembang. Saya pikir, teks ini akan ditempatkan dalam konteks itu. Pembaca mungkin akan melihat salah satunya aspek ke(tidak)sehatan mental tokoh utama, kondisi institusi “kesehatan jiwa” yang tersedia saat itu, perspektif terhadapnya, dan bagaimana topik ini dieksplorasi secara dalam dengan genre novel watakushi-shousetsu.

Membaca ulang secara dalam sebagai penerjemah membuat pikiran saya terus-terusan tertuju pada kegilaan sebagai “konsep” yang kian dibentuk, terbentuk, diubah, dan berubah sepanjang sejarah. Ini membuat saya teringat dengan buku Foucault yang belum selesai saya baca: History of Madness. Saya pikir mungkin dengan baca-baca lagi termasuk buku itu saya bisa menyelesaikan perenungan yang tidak sengaja lahir ini, agar bisa memiliki pemahaman yang lebih rapi, dan tidak kesulitan tidur dihantui pertanyaan-pertanyaan yang sulit dijawab. Entahlah.

2

Mengenai pasca perang

Padahal ini karya seseorang yang mengalami masa perang dan pasca perang, ya. Tapi kok bisa yang dibahas justru konflik yang ada jauh di dalam lubuk batin. Kalau dipikir begitu rasanya benar-benar terasa nyata menyeramkannya.

3

Mengenai kematian sang pengarang

Saya pikir mau tidak mau, dimaksudkan atau tidak, tindakan bunuh diri Tsushima atau Dazai berpengaruh besar terhadap bagaimana karya itu diterima masyarakat. Namun, saya rasa pembaca tetap dapat membacanya dengan melepaskan latar belakang penulisnya, dan hanya memperhatikan dengan saksama apa-apa yang dikandung dalam teks. Dengan kata lain, mematikan sang pengarang dalam karya. Ketika menerjemahkan, pada akhirnya saya sendiri memilih stance tersebut.

4

Mengenai patriarki dalam masyarakat Jepang

Saya pernah membaca tentang bagaimana figur lelaki, atau lebih spesifik lagi figur ayah, merupakan keberadaan yang begitu kuat, begitu menekan di keluarga Jepang, paling tidak sampai masa tertentu. Pembacaan interteks saya rasa perlu, untuk mengeksplorasi topik-topik terkait gender yang ada di dalam teks serta yang dapat diasumsikan dari sana mengenai pandangan penulis. Saya pikir akan mustahil dan percuma untuk menyatakan keberpihakan atau pandangan penulis tentang gender dengan modal karya ini saja, tapi mungkin akan lebih bermakna jika karya ini dijadikan salah satu korpus data dalam usaha mengintip suatu pengalaman spesifik, yaitu pandangan terhadap gender di mata sastrawan masa dan pasca perang di Jepang. Will it shed light to anything, and contribute a significant insight to gender studies? I’m not sure, but it’s still worth a try I guess.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s