Bertanggung jawab atas waktu luang (Membaca In Praise of Idleness dan The Burnout Society)

Kedai kopi itu sepertinya selalu ramai. Saya sampai mengantre cukup lama untuk dapat membuat pesanan. Sembari menunggu, saya perhatikan pengunjung yang telah mendapatkan kopi dan tempat duduk, penasaran siapa saja yang memenuhi tempat seperti itu, pada waktu-waktu begitu. Pegawai kantoran berjabatan tinggi yang sedang rapat? Pekerja lepas yang memanfaatkan internet gratis? Mahasiswa yang berusaha menyelesaikan tesis? Yang pasti kebanyakan orang terlihat sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing.

Saya sendiri berada di sana beberapa minggu lalu untuk mengadakan diskusi dengan beberapa teman. Topik diskusi kami hari itu adalah “kerja”. Karena kebetulan saya sedang jatuh cinta dengan cara menulis Bertrand Russel, saya usulkanlah untuk membahas “In Praise of Idleness“. Kami juga turut membahas “The Burnout Society” yang ditulis oleh Byung Chul-han karena bahasannya sangat berketerkaitan.

Meskipun yang dibahas adalah kerja, saya justru tertarik dengan gagasan mengenai waktu luang pada kedua tulisan. Pada akhirnya memang kedua hal yang seperti lawan kata tersebut ada perlunya untuk dibahas secara bersamaan.

Russel: Waktu luang merupakan aspek penting dalam membangun peradaban

Pertama-tama, mari tilik apa yang dimaksud dengan kerja menurut Russel, yaitu kegiatan-kegiatan yang terkait dengan:

  1. Mengubah posisi suatu unsur yang berada di dekat atau pada permukaan bumi secara relatif ke unsur lain (tipe kerja yang susah dan upahnya rendah).
  2. Memerintah orang lain untuk melakukan pekerjaan pada nomor 1 (tipe kerja yang mudah dan upahnya tinggi).

Menurut Russel, anehnya di Eropa terdapat orang-orang jenis ketiga, yaitu yang dapat bertahan hidup, bahkan gaya hidupnya paling nyaman, tanpa harus melakukan kedua tipe pekerjaan di atas. Mereka adalah para bangsawan yang memiliki tanah.

Para bangsawan memiliki waktu luang yang melimpah. Waktu luang itu dapat mereka peroleh karena pada dasarnya beban kerja mereka dilimpahkan pada orang-orang yang status sosialnya lebih rendah. Russel tidak menganggap hal itu sebagai sesuatu yang buruk.

Menurutnya, justru waktu luang yang digunakan para bangsawan itu telah memungkinkan pembangunan peradaban. Maksudnya, karena para bangsawan dilimpahi waktu luang, mereka yang memiliki ketertarikan pada sains atau seni dapat mengembangkannya dan menciptakan sesuatu yang bernilai tinggi. Kalau dipikir-pikir memang ada benarnya. Penemuan-penemuan di bidang sains & teknologi atau sosial & budaya dapat berkembang pesat berkat kelimpahan waktu luang orang-orang yang tak perlu “kerja kasar”.

LEISURE is essential to civilization, and in former times leisure for the few was only rendered possible by the labours of the many. BUT their labours were valuable, not because work is good, but because leisure is good. AND with modern technique it would be possible to distribute leisure justly without injury to civilization.

In Praise of Idleness – Bertrand Russel

Yang jadi masalah adalah ketika para penikmat waktu luang berhasil menciptakan teknologi modern yang dapat memungkinkan produksi yang lebih efisien, namun jam kerja para buruh tetap sama sehingga hasil produksi menjadi dua kali lipat. Terlebih, Para bangsawan melegitimasi kekuasaan mereka atas waktu luang dengan menjadikan kerja sebagai ukuran moral. Kerja diagungkan sebagai tindakan yang berbudi pekerti baik padahal yang sebenarnya baik itu merupakan waktu luang, agar para pemegang kuasa atas waktu luang dapat mempertahankan posisi mereka.

The conception of duty, speaking historically, has been a means used by the holders of power to induce others to live for the interests of their masters rather than for their own. Of course the holders of power conceal this fact from themselves by managing to believe that their interests are identical with the larger interests of humanity. Sometimes this is true; Athenian slave owners, for instance, employed part of their leisure in making a permanent contribution to civilization which would have been impossible under a just economic system. Leisure is essential to civilization, and in former times leisure for the few was only rendered possible by the labors of the many. But their labors were valuable, not because work is good, but because leisure is good.

Modern technique has made it possible for leisure, within limits, to be not the prerogative of small privileged classes, but a right evenly distributed throughout the community. The morality of work is the morality of slaves, and the modern world has no need of slavery.

In Praise of Idleness – Bertrand Russel

Apakah sebagai manusia yang dapat menikmati waktu luang, kita wajib mempertanggungjawabkannya? Ketika sedang membaca ulang esai tersebut sembari menunggu teman-teman diskusi yang masih di jalan, saya jadi tertegun, merasa sedang menghabiskan waktu luang yang ternyata bukan hanya milik pribadi, melainkan kepemilikan kolektif yang seharusnya saya pertanggungjawabkan dengan memberikan kontribusi yang setara kepada masyarakat. Karena kalau tidak, saya tak ubahnya para bangsawan yang tidak menggunakan ciptaan mereka bagi kepentingan orang banyak. Mungkin lebih buruk lagi, karena saya merasa belum menciptakan apa pun.

Russel meresepkan agar jam kerja dipangkas setengahnya jadi empat jam (dengan upah yang sama). Waktu luang yang tercipta boleh dipakai bekerja dua kali lipat, belajar, atau berpelesiran, itu hak masing-masing individu. Mungkin saya merupakan manusia yang hidup di sistem ekonomi/kehidupan yang sudah jauh lebih terasa ajek dibandingkan dengan kala Russel menulis esai itu di tahun 1932, soalnya saya merasa gagasannya utopis nan mustahil. Belum sampai pada jawaban apa pun, tiba waktunya bagi saya untuk memulai membaca ulang The Burnout Society hari itu.

Chul-han: Waktu luang perlu digunakan untuk merenung

Sebenarnya Byung Chul-han tidak secara langsung membahas waktu luang. Dalam tulisannya, ia mengkritik sistem kehidupan yang menuntut pencapaian tanpa akhir dan meresepkan perenungan sebagai pengisi waktu luang.

Menurut Chul-han, saat ini kita hidup di masyarakat pencapaian (achievement society) yang juga merupakan masyarakat kelelahan (burnout society). Manusia dalam masyarakat pencapaian merupakan subjek keuasaan yang sudah tidak perlu diatur-atur lagi agar menjadi pekerja yang canggih, berbeda dengan subjek yang dihukum dan didisiplinkan sebagaimana yang dibahas dalam tulisan Foucault. Masyarakat pencapaian mengatur diri mereka sendiri dan berlomba-lomba dengan diri mereka yang kemarin. Permasalahannya, tuntutan-tuntutan untuk menjadi lebih baik dari diri mereka yang kemarin ini sesungguhnya tidak datang dari diri mereka sendiri, dan kebanyakan hasilnya dinikmati oleh orang lain, yaitu perusahaan yang merekrut mereka.

…burnout represents the pathological consequence of voluntary self-exploitation.

What proves problematic is not individual competition per se, but rather its self-referentiality, which escalates into absolute competition. That is, the achievement-subject competes with itself; it succumbs to the destructive compulsion to outdo itself over and over, to jump over its own shadow.

…the absence of external domination does not abolish the structure of compulsion. It makes freedom and compulsion coincide. The achievement-subject gives itself over to freestanding compulsion in order to maximize performance. In this way, it exploits itself. Auto-exploitation is more efficient than allo-exploitation because a deceptive feeling of freedom accompanies it.

Exploitation now occurs without domination. That is what makes self-exploitation so efficient. The capitalist system is switching from allo-exploitation to auto-exploitation in order to accelerate.

On the basis of the paradoxical freedom it holds, the achievement-subject is simultaneously perpetrator and victim, master and slave, Freedom and violence now coincide.

Di dunia seperti itu, manusia terlalu kelelahan dan cemas untuk diam dan merenung. Kegiatan-kegiatan pengisi waktu luangnya cenderung berkutat pada hal-hal yang tidak membutuhkan konsentrasi dalam. Hasilnya, manusia terjebak dalam keadaan burn out. Meskipun mereka terlihat bebas, sesungguhnya mereka masih terikat oleh jeratan-jeratan yang kini semakin terasa kasat mata dan lazim.

Yang terngiang ketika membacanya adalah cerita orang-orang yang kewalahan mengurusi pencapaian tuntutan-tuntutan yang sebenarnya perlu diperhatikan lagi kepentingan dan momentumnya. Lalu cerita-cerita tentang kekesalan orang-orang yang tidak memiliki sumber daya waktu dan keuangan yang cukup untuk paling tidak mencoba menjejakkan kaki pada jalan menuju mimpi mereka.

Lagi-lagi permasalahannya tampak berakar dari kapitalisme, oh kapitalisme. Melihat orang-orang di sekitar (baca: media sosial), saya pikir zaman sekarang ada banyak cara untuk orang-orang yang memiliki keterbatasan dana agar dapat tetap berkarya dan membangun reputasi. Namun saya yakin bahwa orang-orang tersebut pun dapat melakukannya karena memiliki waktu luang yang tak perlu mereka habiskan untuk meredamkan amarah perut kosong. Makin saya pikirkan, pemikiran bahwa waktu luang merupakan kemewahan yang esensial dalam membuktikan diri semakin bisa saya yakini. Di akhir pembacaan, saya kembali pada pernyataan pada judul serta pertanyaan di bawah ini.

Mungkinkah pekerja merebut kembali hak atas waktu luang? Harus diapakan waktu luang kita?

Mengenai judul tulisan renungan ini, saya pikir memikirkan waktu luang sebagai hal yang perlu dipertanggungjawabkan adalah hal penting bagi saya, namun saya harus hati-hati juga terhadap tuntutan pencapaian, apalagi yang sebenarnya sudah perlu dipertanyakan nilai kepentingannya, atau sebenarnya penting bagi siapa. Saya masih memegang keyakinan (meskipun terkadang pikiran nihilis dan determinis masih mengintip) bahwa peradaban yang dimiliki manusia masih perlu diperjuangkan agar dapat lebih berkembang, berkelanjutan, dan kebaikannya dapat dinikmati oleh seluruh individu. Saya ingin memberanikan untuk bermimpi bahwa suatu hari nanti setiap individu dapat memiliki waktu luang yang cukup agar dapat berkarya sesuai minatnya masing-masing, sembari tetap memikirkan standar kesehatan dan kebahagiaan yang kita tentukan sendiri.

Orang-orang sempat memperdebatkan privilese anak muda berprestasi yang dapat melesat menggapai mimpi mereka tanpa harus takut terjatuh, misalnya Maudy Ayunda. Namun mengingat ada banyak orang yang terinspirasi dan tergerak oleh prestasinya, saya pikir ia justru telah mempertanggungjawabkan waktu luang dan privilesenya dengan sangat baik. Memang sulit untuk tidak berkecil hati ketika melihat seseorang mencapai sesuatu karena mereka memiliki hal yang tak kita punya, namun sebaiknya kita berhenti menyakiti diri sendiri dan mencoba melakukan perubahan sedikit demi sedikit, bersama-sama.

Cara merebut kembali waktu luang? Saya sendiri kurang gagasan praktis soal ini. Yang saya tahu hanya mempertimbangkan tuntutan capaian, apalagi yang bisa semakin mengalienasi kita dari mimpi. Apa pun tuntutannya, sebenarnya pada akhirnya harus kembali pada kemampuan dan kebutuhan. Ah, tapi saya tidak ingin membahasnya lebih lanjut si sini. Mungkin lain kali.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s